Malam ini, sudah memasuki malam ke-16. Kita sudah menuntaskan 15 hari ibadah puasa, bagi yang mulainya tanggal 1 Maret. Pasalnya, membaca berita, ada juga yang memulai puasa sejak tanggal 2 Maret, atau bahkan 28 Februari. Saya belum memiliki ilmu yang mapan tentang bagaimana menentukan itu dengan baik.
Dengan demikian, kita sudah berada pada pertengahan perjalanan. Jika ibadah ini diibaratkan sebuah perjalanan panjang. Maka sudah bisa kita renungi –atau dalam bahasa lain berefleksi diri—atau melakukan evaluasi diri, sudah sejauh mana keberhasilan yang sudah kita capai. Apakah sebelum masuk bulan mulia ini, kita pernah menawarkan semacam proposal kepada Pencipta, kira-kira apa yang akan direncakan untuk dilaksanakan selama sebulan penuh? Sungguh baik jika ada yang merencananakannya, karena akan mampu mengevaluasinya dengan baik.
Saya termasuk orang yang tidak merencanakan dengan baik –padahal sangat saya butuhkan. Saya pribadi agak sulit mengukur apa sesungguhnya progres yang sudah tercapai hingga sekarang. Masih banyak kekurangan yang sepertinya butuh perhatian, agar bisa dimanfaatkan pada 15 hari puasa yang tersisa.
Tentu saja, kita harus berbuat sesuatu. Kita harus menyiapkan diri lebih baik lagi. Apalagi sesuatu yang kita laksanakan akan berdampak pada masa depan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
ibadah itu seperti berdagang dan bercocok tanam. Apa yang kita usaha, akan diikuti oleh hasilnya. Orang-orang yang bercocok tanam, lalu menjaganya dengan baik, pada saatnya akan memetik hasilnya dengan baik pula. Tidak mungkin hasil akan didapat oleh mereka yang tidak berusaha. Pemungut hasil kebun adalah mereka yang sudah menanamnya sejak lama.
Jika diibaratkan ujian, kurang lebih juga begitu. Orang-orang yang berusaha mempersiapkan diri dengan baik, biasanya akan mendapatkan hasil yang baik pula. Mereka yang ikut ujian hanya untuk sekedar memperlihatkan kehadiran, tidak peduli yang selain itu, maka saya pastikan hasilnya juga begitu. Kecuali, dengan jalan yang buruk, seperti mencontek, dan semacamnya.
Saya membayangkan dalam hal apapun, semuanya harus dipersiapkan dengan baik. Termasuk ibadah. Mulai dari semangat, yang harus ada sejak dari awal. Semangat ini yang membuat nyaman dan bahagia saat menjalankan sesuatu. Dalam bahasa agama, merasakan kelezatan dalam beribadah, ketika pada titik bahagia dan nyaman tersebut. Tidak merasa bahwa ibadah itu sebagai beban.
Berangkat dari kondisi tersebut, maka ada dua hal yang seyogianya selalu kita saling mengingatkan. Pertama, orang-orang yang ingin mendapatkan hasilnya dengan baik, harus berusaha mempersiapkan diri dengan baik dari awal. Mereka yang sukses selalu didukung oleh usaha dan kerja keras sejak awal. Ada optimisme yang dibangun sejak mata terbuka dari tidurnya. Tipe orang yang demikian yang berpeluang besar mencapai apa yang diinginkan.
Kedua, dalam berusaha sekalipun, kita harus berangkat dari pikiran positif. Orang lain yang berusaha dan sama ruangnya dengan kita, bukanlah pesaing yang akan menyerobot apa yang akan menjadi milik kita. Pikiran positif ini yang turut menggerakkan lebih hebat semangat kita berusaha atau mengerjakan apa yang menjadi tugas dan kewajiban rutin kita setiap hari. Orang yang beribadah, harus menjadi partner yang baik dalam ibadah kita. Mencapai masa depan yang baik di akhirat, tentu saja harus bekerja sama agar mencapai hasil yang maksimal.
Dua hal tersebut, saya kira harus saling bersinergi. Orang-orang yang memilih membungkus diri di tempat tidur waktu pagi, akan tertutup pintu-pintu rezekinya. Orang-orang yang tidak berjuang untuk beribadah sejak subuh, juga akan kelabu masa depannya. Bukan hanya itu. Orang-orang yang bermental begitu, bahkan tidak semangat untuk berusaha secara serius dan menata hidupnya secara lebih baik.
Kondisi ini tidak mungkin bisa dianggap sederhana. Orang yang tidak memiliki semangat, akan berpengaruh bagaimana ia bisa menjalani hidup dan kehidupan yang lebih luas. Seseorang harus selalu berusaha memperbaiki kualitas hidupnya, yang proses salah satunya adalah dengan semangat hidup.
Masalahnya adalah seberapa yakin kita akan tumpuk masing-masing itu seiring dengan semangat yang kita punya? Apakah kita yakin bahwa tanpa bersaing dengan orang lain pun, apa yang menjadi milik kita pasti akan tersedia? Seberapa yakin kita akan mendapatkan balasan kelak berdasar apa yang kita laksanakan saat ini?
Selama ini, saya sudah mendengar sejumlah pihak yang berusaha dengan tidak lagi menjadikan persaingan sebagai jalan dalam menjalankan usahanya. Orang-orang yang cerdas sudah membangun jalan sebaliknya. Membantu usaha orang lain secara sehat dengan harapan akan berimbas secara positif terhadap usaha kita sendiri. Dengan demikian akan lahir suatu spirit yang akan saling memberi kemudahan satu sama lain.
Orang-orang dalam beribadah juga harus bekerja sama agar tercapai satu semangat untuk menjaga tujuan hidup bersama. Melaksanakan bersama-sama akan memunculkan kekuatan tersendiri. Semangat tangguh hingga mencapai apa yang menjadi tujuan hidup.
Sesungguhnya ada sebuah penegasan dari al-Quran, bahwa semua rezeki kita masing-masing, sudah ada tumpuknya. Tidak mungkin rezeki yang seyogianya itu menjadi milik kita, akan bertukar dengan milik orang lain. Sebaliknya apa yang seyogianya menjadi milik orang lain, lalu menjadi milik kita. Semua sudah ada tumpuk masing-masing, yang disalurkan melalui usaha dan kerja keras yang dibangun. Memperbesar pendapatan kita bukan melalui jalan membungkam orang lain. Justru dengan merangkul orang lain, kadang-kadang akan menambah pendapatan yang berlipat, yang terbangun dari kekuatan-kekuatan yang positif.
Orang yang beribadah, menjaga ketaatan kepada Pencipta, juga sudah ada jatahnya. Tidak menyerobot apa yang menjadi hasil dari ibadah orang lain. Mari kita mengevaluasi diri dengan baik.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.