Malam Puasa 27, Connecting People dan Pentingnya Komunikasi

Subuh tadi, saya mendengar berbagai kerumitan dari seseorang yang mengatur jadwal penceramah. Ia tidak memegang jabatan penting, namun saya yakin, ia memiliki peran penting yang tak tergantikan. Bisa dibayangkan, sejak sebelum bulan Puasa, ia sudah …

Subuh tadi, saya mendengar berbagai kerumitan dari seseorang yang mengatur jadwal penceramah. Ia tidak memegang jabatan penting, namun saya yakin, ia memiliki peran penting yang tak tergantikan. Bisa dibayangkan, sejak sebelum bulan Puasa, ia sudah menghubungi sekitar 60 penceramah. 30 untuk ceramah subuh dan 30 untuk ceramah tarawih. Belum lagi urusan imam tarawih, bilal, hingga protokol. Sebelum menghubungi satu persatu, ia berkoordinasi juga dengan badan kemakmuran masjid.

Saya ingin tahu secara sederhana mengapa protokol pun tidak boleh sembarang orang. Jika orang yang tidak dikenal, tidak sopan cara memanggil, lantas juga menyampaikan hal lain yang diluar tugasnya, maka akan bermasalah kemana-mana. Termasuk ia pastikan nama-nama penceramah, dengan memastikan sejumlah orang yang ada di kampung juga harus memberi ceramah. Di kampungnya, ada sejumlah tokoh penting, dan diwajibkan untuk menyampaikan ceramah di masjid ini.

Peran seperti ini, teman saya bilang, persis seperti slogan Nokia: connecting people. Menghubungi dan mempertemukan orang-orang. Bahkan penceramah yang nyata-nyata dalam ceramahnya memulai dengan kerinduan akan suasana kampungnya. Atau penceramah yang sudah tinggal di sini sebelumnya.

Tentu peran ini tidak mudah. Walau, juga ada kerumitan lain, soal tidak semua orang merasa nyaman dengan pilihan-pilihan. Ada yang bisa bersabar. Ada juga yang langsung komen tidak enak. Suatu kali, saat saya ketemu secara bersahaja dengan beliau, saya katakana bahwa semuanya pasti ada ganjarannya. Bersabarlah.

Saya mendapat banyak tempat orang-orang semacam ini memiliki pola komunikasi yang baik. Dalam komunikasi pasti membutuhkan saling pengertian dua arah. Tidak mungkin satu arah. Orang-orang yang memakai tanda tertentu, harus dipahami oleh orang lain perihal kepentingan apa hal itu digunakan. Kegagalan memahami yang demikian, menyebabkan tanda itu tidak ada guna. Orang-orang tertentu, memiliki kemampuan untuk mengurai keadaan ini.

Ada hal lain yang terjadi. Walau sudah memahami tanda, namun tetap melakukan yang tidak sebagaimana tanda itu. Dalam perang, petugas medis tidak boleh diperangi. Rumah sakit tidak boleh dihancurkan. Tetapi militer Israel, melakukan dengan sengaja dua-duanya. Apakah mereka tidak tahu? Mereka pasti tahu.

Pada posisi demikian, dunia seolah memberi tanda yang lain. Tidak segegap saat terjadi sebaliknya. Saat berhadapan dengan kasus demikian, lembaga-lembaga resmi juga seperti kambing congek yang tidak bisa berbuat apa-apa. Seperti peliharaan yang hanya bergerak ketika ada yang menyuruhnya.

Terserah bagaimana dunia memahami tanda. Saya ingin mengingatkan betapa tanda itu harus dipahami antara mereka yang memberi, dengan mereka yang menerima. Pada hal yang penting dan krusial, sangat berisiko jika pesan melalui tanda yang salah dibaca oleh penerimanya.

Hal tentang tanda ada dimana-mana. Imam shalat sekalipun berpotensi untuk lupa. Kata ungkapan, lupa itu memang ada dalam setiap manusia. Tidak terkecuali imam yang memimpin shalat. Namun di balik kemungkinan tersebut, ada tanda yang memungkinkan diberikan. Jika imam melakukan hal-hal yang lebih atau kurang, makmum di belakang bisa mengingatkannya.

Saya punya pengalaman di satu meunasah, saat tarawih, ada kelupaan imam mengenai rakaat. Imam mengira masih satu rakaat, sedangkan yang sebenarnya sudah dua rakaat. Ketika imam mau bangkit ke rakaat ketiga, di sinilah penting tanda yang diberikan makmum. Masalahnya adalah makmum yang berdiri di belakang imam tidak selalu orang yang mengerti persoalan.

Pengaturan khusus mengenai orang tertentu yang berdiri di belakang imam, memiliki arti khusus. Bukan suka-suka. Jadi jamaah seyogianya juga membuka ruang untuk tiga atau empat tempat di belakang imam tersebut untuk mereka yang memang mengerti dan memahami. Ketika terjadi kelupaan, bisa ada yang menegur dengan tanda tertentu. Masalahnya dalam satu tempat, tidak semua tersedia orang yang demikian. Bisa jadi tidak semua yang hadir dalam sebuah jamaah itu, memiliki pemahaman yang cukup mengenai ibadah tertentu.

Hal lain yang juga harus dipahami, adalah tanda yang digunakan untuk menegur imam hanya ucapan dan gerakan tertentu saja. Tidak boleh melakukan hal-hal yang di luar itu. Tidak semua tanda boleh digunakan. Hanya tanda tertentu yang sudah ditentukan dalam ibadah.

Dalam kehidupan yang lebih luas, tentang tanda ini juga memiliki wujud masing-masing. Ada dua hal lain yang memancing ingatan saya dalam menulis tentang ini. Pertama, status seorang senior saya, yang mengingatkan betapa orang tua kita dulu memberdayakan berbagai tanda dalam rangka melakukan internalisasi, sosialisasi, bahkan memberi berbagai kabar pada tingkat masyarakat sebuah tempat. Tanda ini dapat ditemui dalam berbagai wujud. Umumnya dalam masyarakat Aceh, tambo, beduk, atau apapun namanya –sejenis gendang, sangat memiliki multifungsi

Ketika suara belum bisa dibesarkan dengan bantuan teknologi seperti sekarang, maka peran pemberi tanda itu sangat penting sekali. Pengeras suara yang selama ini tidak hanya ada di masjid-masjid di kota, mushalla yang besar, atau tempat-tempat yang megah, melainkan ia sudah tersedia bahkan di langgar-langgar kecil. Sehingga apapun yang ingin disampaikan kepada masyarakat, tinggal ditekan tombol jalur arus, lalu tinggal disampaikan.

Tanda tidak berjalan sederhana bagi kita yang dari luar kawasan itu. Salah memberi tanda, akan memberi implikasi tertentu. Makanya pemberi tanda itu tidak boleh sembarangan. Tanda ada orang yang meninggal, tidak sama dengan tanda untuk bergotong royong. Tanda pada malam hari raya, juga lain lagi suaranya. Memberi tanda itu tidak semua orang menguasainya. Makanya ketika untuk gotong royong diberi ketukan tanda untuk orang meninggal, misalnya, kita bisa paham apa yang akan terjadi.

Kedua, ketika mendengar sirine, baik waktu mau berbuka maupun saat mulai berpuasa ketika fajar datang. Seorang teman pernah menanyakan –tepatnya mungkin menyatakan—bahwa ketika mendengar sirine, memang persis seperti pernyataan perang. Hal ini tidak salah. Ketika memasuki bulan ini, sejak awal sudah diingatkan Rasulullah bahwa setelah memenangi perang fisik yang besar waktu itu, masih ada perang besar lain yang dihadapi umat muslim, yakni perang terhadap hawa nafsu.

Saya teringat akan tanda dalam masyarakat kampung, yang kemudian berganti dengan bantuan teknologi. Ingatlah kehidupan yang lebih luas menuntut kita memahami tanda dalam masyarakat. Tidak semua hal akan disampaikan dengan bahasa yang jelas dan tegas. Saya merasakan, ketika pengatur para penceramah tersebut diprotes oleh dua-tiga orang kampung, bisa jadi ia tidak mendapatkan koreksi tidak nyaman yang diungkap tergas dan kongkret. Kemampuannya dalam memahami semua komunikasi, justru memperlihatkan orang seperti itu sebagai orang penting.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment