Penjilat

Orang-orang yang berwajah ganda, tidak sekarang saja dikenal. Sepanjang sejarah kehidupan manusia, selalu ada orang yang tidak singkron antara apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan. Tidak sejalan itu tidak jarang turut ditentukan oleh hal …

Orang-orang yang berwajah ganda, tidak sekarang saja dikenal. Sepanjang sejarah kehidupan manusia, selalu ada orang yang tidak singkron antara apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan. Tidak sejalan itu tidak jarang turut ditentukan oleh hal yang lain, misalnya kepentingan terhadap seseorang. Apa yang kita lakukan berbeda untuk satu dan lain orang. Sekali lagi, bahwa kita melakukan sesuatu itu karena kepentingan tertentu. Ada orang yang hanya ingin memperlihatkan kelebihan tidak pada tempatnya.

Kondisi orang yang bermental demikian, tidak hanya ada dalam masyarakat yang berpendidikan rendah. Semua strata kehidupan, memungkinkan adanya orang-orang yang berperilaku demikian. Tidak aneh dan masing-masing memiliki hal yang ingin dicapai untuk pribadinya. Tidak jarang kepentingan ini tampak di tengah kerumunan orang yang sedang berposisi berbeda. Ada juga sebagian orang yang ikut arus tidak berdasarkan benar atau tidaknya, melainkan pada target tertentu seperti saya ungkap di atas.

Ada orang yang saya kenal, bicaranya berubah-ubah. Sesuai kepentingan. Ia tidak berani berhadapan dengan opini publik. Ia tidak sadar, akhirnya ikut apa yang diyakini banyak orang. Ada sebagian kita yang hanya pandai ambil momentum. Bersuara bukan untuk menjawab apa yang dibutuhkan, melainkan hanya untuk menyenangkan hati yang berpotensi membagi untung buat kita. Lantas untuk apa kita melakukan sesuatu? Ternyata tidak selamanya untuk menegakkan apa yang kita yakini sebagai benar, melainkan hanya untuk memuaskan orang lain walau berseberangan dengan posisi yang benar.

Tidak semua apa yang kita ucapkan itu sebagai cermin dari hati. Apa yang kita ungkapkan, ada yang bukan berasal dari batin. Antara mulut dan hati berbeda. Orang-orang yang berbicara objektif, rupanya subjektif. Orang melakukan sesuatu yang dibilang objektif, sesungguhnya subjektif. Orang yang berbuih-buih melakukan sesuatu dengan alasan memperlihatkan objektif, tiba-tiba terbongkar sebagai calon pejabat.

Sebelum maju kandidat tertentu bisa berbicara kritis, namun pelan-pelan berubah menjadi sangat antikritik. Orang-orang yang awalnya suka berdiskusi, tiba-tiba menjadi penyimpul yang terpaksa. Menganggap seolah hanya dirinya yang pantas dan kesempatan. Anggapan itu ditentukan oleh bagaimana ia ingin mendapat tempat.

Fenomena yang hampir sama, saat orang lain melakukan koreksi, sedikit tergelincir akan dijadikan batu loncak oleh orang lain lagi untuk menjilat. Orang berbicara sesuatu tentang orang lain yang salah langkah, bukan ingin diperbaiki, melainkan ingin diperlihatkan posisinya hanya untuk menggantikan kesempatan orang. Kondisi di sekitar kita, yang demikian, selalu akan mengambil untung lebih, dari kondisi kita yang tiba-tiba tidak sesuai langkah. Tidak jarang, orang seperti ini akan mendapatkan hal yang sama pada akhirnya. Jangan menjilat orang lain, karena selalu ada potensi orang lain melakukannya terhadap kita.

Leave a Comment